Review Buku
1. Identitas Buku
Judul : Spiritual Parenting
Penulis : Nazhif Masykur
Editor : Evi Ni’matuzzakiyah
Pewajahan Muka
dan Isi : Ahmad Arby
Tebal Buku : 254 halaman
Penerbit : Salsabila Media,
Gatak Sumberagung Jetis, Bantul D.I.Yogyakarta Telp. 0274 – 7851285
2. Ringkasan dan Isi Buku
Buku ini merupakan sebuah rancangan pikiran ataupun suatu cara pandang
tentang bagaimana mengontrol emosi, beradaptasi pada setiap lingkungan yang baru dan bisa dikatakan
sebuah buku yang bisa di pegang sebagai pedoman sebagai cara mendidik anak. Menurut
saya buku ini baik dari sudut pandang penulis yang bisa dikatakan didalam buku
ini penulis mengajak dan menuntun kepada pembaca bagaimana cara mendidik anak. Dan
pada akhirnya buku ini sangatlah penting dibaca oleh orang tua ataupun guru sebagai
pendidik anak yang bisa digunakan sebagai acuan tindakan kepada anak.
Di dalam buku ini juga menjelaskan teori lalu menyebutkan contoh
sehingga membantu pembaca buku untuk memahami buku. Buku “Spiritual Perenting”
ini juga baik dalam sudut pandang psikologi yang bisa menuntun anak ke berbagai
perihal yang “positif” yang bisa di pahami dari setiap bab pembahasan yang
terdapat di dalam buku. Didalam buku menjelaskan bagaimana cerita atau kisah
peneguh jiwa yang di dalam kisah-kisah yang terdapat di dalam buku tersebut
mengkisahkan sosok suri tauladan yang baik seperti kisah ibu dan kisah bapak
sebagai orang tua yang tentunya sebagai tempat pertama untuk bersosialisasi. Dan
keutamaan seorang anak kepada orang tua dikisahkan dengan kisah yang menarik. Terlebih
lagi didalam buku ini juga terdapat penggalan ayat al-quran dan hadis yang digunakan
sebagai penguat pendapat penulis tentang ulasan pendapat yang dikemukakan
didalam buku.
Dari sampul buku ini yang tertulis judul buku “Spiritual Parenting
Melahirkan Anak Cerdas Tanpa Batas”. Dari judul buku itulah yang telah
mengajak saya untuk membaca dan memahami isi buku sebagai salah satu cara untuk
menghapus rasa penasaran terhadap isi buku. Dan untuk mengetahui bagaimana cara
yang baik untuk mendidik anak, menilai perilaku anak, memahami kemauan anak,
dan mengarahkan anak kepada perilaku yang baik bukan dengan cara memaksa anak
atau malah menggunakan kekerasan yang bisa menyebabkan kejiwaan anak yang terganggu.
Di dalam buku ini juga di jelaskan seperti apa itu spiritual
parenting yang diulas dengan jelas di dalam buku, dan menjelaskan juga
bagaimana mendidik anak dengan seni mendidik anak untuk mengetahui tipe anak,
menumbuhkan keyakinan pada anak, menghargai potensinya, bagaimana kita sebagai
orangtua harus mencintainya begitupula anak kepada orangtua, menghadirkan
bahasa cinta didalam keluarga, membangun cinta didalam keluarga, mengarahkan anak untuk mengejar mimpi,
mengerti bagaimana perkembangan anak dan menjelaskan kepada anak bagaimana kita
harus belajar dari kehidupan.
Bagaimanapun juga buku ini menurut saya dapat menimbulkan pemikiran
kritis orang tua, guru, ataupun pembaca yang membacanya tapi semua tergantung kepada
pembaca menanggapi buku ini karena pastinya setiap orang memiliki pendapat yang
berbeda-beda. Tentunya dalam menilai suatu perihal karena untuk membuat orang
satu pendapat ketika pedoman yang dimiliki setiap orang berbeda sumber akan
lama prosesnya. Sekarang meemahami buku ini dalam setiap pembahasan atau setiap
bab yang di dalam buku.
“Diawali pikiran. Melahirkan potensi” kata-kata ini merupakan bab
judul yang terdapat di dalam buku yang menurut saya didalam buku dijelaskan
bahwa setiap orang harus berfikir positif karena dapat terciptanya program yang
nantinya stimulus otak menerimanya. Sejauh apakah pengaruh program pikiran
bawah sadar kita? Program pikiran bawah sadar kita akan memberikan andil atau
bahkan menentukan sukses tidaknya kehidupan kita. Dan di mana kita harus selalu
berfikir positif tentang apa yang kita jumpai didalam kehidupan sehari-hari.
Pastikan bahwa tindakan, perlakuan, ucapan, perkataan kita kepada
anak-anak mempunyai pengaruh yang “positif” bagi perkembangan diri mereka. Karena
itulah yang akan membentuk diri mereka kelak menjadi apa dan seperti apa.
Nasranikah, Majusikah, ataupun Yahudi, semuanya tergantung kita sebagai
orangtuanya. Oleh karena itu Rasulullah Muhammad junjungan kita bersabda: “Setiap
anak dilahirkan dalam keadaan dalam keadaan fitrah, lalu kedua orangtuanyalah
yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H.R Baihaqi) seperti itulah
penggalan tulisan yang dijelaskan di dalam buku.
Perlu kita ketahui bahwasannya setiap keinginan itu pasti akan
muncul. Dan tidak jarang niat untuk melakukan sesuatu secara otomatis itu
muncul dari pikiran bawah sadar. Karena dilakukan secara berulang-ulang dan
rutin, keinginan-keinginan besar biasanya akan ada heartknock Dan energi itu dapat dimanfaatkan untuk
mewujudkan impian hidup kita.
Penggambaran keingian di dalam buku ini di contohkan sebagaimana Marcus Aurelius Antonius, seorang
kaisar Romawi zaman dahulu mengatakan, “a man’s life is what his thought
make of it - kehidupan manusia ialah bagaiman mereka memikirkannya.” Bisa diartikan
bahwasanya ini menjelaskan tentang sesuatu yang selalu digambarkan, akan mudah
terekam dalam pikiran bawah sadar, dan secara otomatis, maka muncullah pikiran
tersebut, yang mana ia berperan sebagai penghubung antara jiwa dengan tubuh. Sehingga
tubuhpun bereaksi dengan mengerahkan seluruh potensi yang sebelumya tidak
pernah digunakan baik dalam bentuk kreatifitas maupun tindakan. Dengan menggambarkan
impian akan oleh pikiran bawah sadar kita.
Maha besar Allah yang telah menganugerahkan potensi yang sama
besarnya kepada setiap manusia. Tidak ada ruginya bagi kita untuk membayangkan
betapa berpotensinya diri kita untuk mencapai impian-impian, walaupun tidak
dipungkiri terkadang serasa sulit kalau memang belum kita biasakan. Tetapi, tidak
ada salahnya kita memulai untuk membiasakan anak-anak untuk menggambarkan
impian-impian mereka yang hendak mereka capai. Mereka bisa dilatih dengan
berbagai cara, salah satunya adalah dengan membiarkan dan membebaskan diri
anak-anak kita untuk bercita-cita. Karena dengan memberikan kebebasan
bercita-cita kepada anak, maka akan sama halnya memberi dorongan yang kuat terhadap
mereka untuk dapat meraih apa yang dapat mereka cita-citakan. Dan tentunya
dengan tetap memberikan support kepada anak untuk berusaha semaksimal
mungkin walaupun harus jatuh bangun, dan membayarnya dengan pengorbanan yang tidak
sedikit. Lalu kita tanamkan kuat dalam hati mereka, Allah Maha Adil, Maha
Penyayang terhadap hambanya, biarlah Allah yang akan menentukan hasil yang
terbaik. Karena sangat disayangkan jikalau potensi dasat yang ada pada
anak-anak kita tidak dioptimalkan sebaik mungkin.
Didalam bab pertama, yang menjelaskan tentang kisah peneguh jiwa
yang menjelaskan bahwasannya kita di ingatkan dengan firman Allah pada QS. An-Nahl:
125). Allah berfirman: “Serulah (manusia) kepada jan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik. Sesungguhnya Dialah Tuhanmu yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang
yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).
Bukankah untuk memberikan pelajaran kepada umat Islam (sehingga
mereka bisa mendapatkan hikmah, mendapatkan kesejukan jiwa) Allah menggunakan
cerita-cerita?, hampir seperempat isi Alquran adalah cerita, hanya Allah
sajalah yang Maha Mengetahui mengapa demikian. Maka dari itu, pada setiap
bagian pembahasan dalam buku ini selalu ada cerita. Karena di dalam buku ini
mengisahkan tentang beberapa kisah,yaitu dengan judul: (1) Selagi Ayah Masih Ada,(2) Selagi Ibu Masih Ada, (3) Sebelum Menyesal Kemudian, (4) Kisah Cinta Seorang Anak dan (5) Aku Ingin Mama Kembali.
Perlu kita ketahui bahwasannya didalam kisah-kisah ini didalam buku
ini merupakan suatu kisah yang sungguh mengetuk hati pembaca, bermanfaat dan kita
juga dapat mengambil hikmahnya pada setiap kisah tersebut. Dan pada kisah
seorang ayah intinya kita juga bisa melihat atau membuka Alquran pada QS. Luqman:
13-14). Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi pelajaran kepadanya: “Hei anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Dan
kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Lukman: 13-14).
Didalam kisah seorang ibu yang di ceritakan di dalam buku ini yaitu
menceritakan bahwa spesialnya seorang ibu, Allah menciptakan seorang wanita
sebagai yang utama, Allah ciptakan bahunya, agara mampu menahan seluruh beban dunia
dan isinya,walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan
kepala bayi yang sedang tidur. Karena terkadang seorang ibu bisa menangis tanpa
sebab karena didalam kisah ini juga
terdapat perintah untuk menyayangi ibu dan dekatkanlah diri kita pada sang Ibu
kalau beliau masih hidup, karena di kakinyalah kita menemukan surga. Didalam kisah seorang ibu yang di ceritakan di dalam buku ini yaitu
menceritakan bahwa spesialnya seorang ibu, Allah menciptakan seorang wanita
sebagai yang utama, Allah ciptakan bahunya, agara mampu menahan seluruh beban dunia
dan isinya,walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan
kepala bayi yang sedang tidur. Karena terkadang seorang ibu bisa menangis tanpa
sebab karena didalam kisah ini juga
terdapat perintah untuk menyayangi ibu dan dekatkanlah diri kita pada sang Ibu
kalau beliau masih hidup, karena di kakinyalah kita menemukan surga.
Dijelaskan dalam QS. Al-An’am: 151 bahawasannya katakanlah: “Marilah
kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh tuhanmu yaitu: janganlah kamu
mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu
bapak” (QS. Al-An’am: 151). Didalam kisah tersebut juga menceritakan bahwa terkadang kita
sebagai orang tua dan guru lupa kalau anak-anak pun seharusnya di beri rasa
cinta yang tulus oleh Allah. Tidak semua
orang bisa sabar, kuat, dan hebat dalam mensiasati kesuliatan hidup ini. Tapi kita
pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekusatan yang istimewa untuk menjalani
ujian di dunia. Sehebat apapun ujian yang dihadapi pasti ada jalan keluarnya
dan di tiap-tiap kesulitan ada kemudahan dan Tuhan tidak akan menimpakan
kesulitan diluar kemampuan untuk-Nya. Jadi jangan menyerah dengan keadaan, jika
ada anak yang sedang kurang beruntung sedang mengalami “kekalahan” maka
bangkitlah. Karena sesungguhnya kemenangan akan di berikan kepada siapa saja
yang telah berusaha sekuat kemampuannya.
Didalam bab kedua, yang menjelaskan tentang Spiritual Parenting seperti
apa yang telah saya baca di dalam buku ini yang mempunyai tujuan untuk
melahirkan anak cerdas tanpa batas. Dan ternyata isi yang terdapat didalam buku
ini yaitu menjelaskan dengan mencontohkan batu dan air yang di padang dari segi
sifat manusia ada yang seperti batu dan ada juga yang seperti air. Seseorang yang
memiliki sifat seperti batu, bisa jadi sangat keras dalam kenyataan mendidik
dan menyikapi berbagai perilaku anak kita. Kita berpikir dan melihat tingkah
laku anak-anak kita dari kacamata diri kita sendiri. Akibatnya, kita mengalami
kesulitan dan tidak bisa menerima perilaku anak yang seperti batu. Dan
penggambaran untuk orangtua dengan ciri-ciri seperti air adalah mampu merespon
tindakan anakan dan menghargainya. Menjadi orangtua seperti air memang tidak
muda, karena kita harus tahu kapan menggunakan kekuatanorangtua untuk
mendisiplinkan anak. Tetapi bukan berarti menjadi orangtua seperti air itu
sulit untuk dicapai, selama ada kemauan yang kuat untuk mengubahnya pasti Allah
akan membukakan jalan terbaik yang harus dilalui. Dan harapan dari semua orang
pastinya pada akhirnya anak merasakan kegembiraan dalam suasana hangat saling
menghargai. Didalam buku ini juga menjelaskan tetang pola asuh anak yang selama
ini digunakan dalam masyarakat yakni Pola Asuh Koersif, Pola Asuh Permisif, dan
Pola Asuh Dialogis. Dan dari beberapa penjelasan kita dapat mengetahui orangtua
atau kita itu masuk ke dalam pola asuh yang mana di antara ketiga pola
tersebut. Dari sini juga dapat memperoleh keperibadian orang tua yang
seharusnya merukapan displin positif yeng berarti bisa bekerja dengan
komunikasi yang baik, mendengarkan anak, mengamati anak, dan menetapkan batasan yang jelas pada
perilaku anak.
Kreatifitas orangtua di ukur dalam segi mendongeng ataupun
bercerita agar orangtuapu kreatif, sedangkan pengalaman hidup anak bisa menjadi
sumber ide. Dengan sedikit latihan, bisa diperoleh pengalaman untuk myampaikan
cinta kepada orangtua, nial-nilai dan keyakinan yang disampaikan melalui
dongeng. Dalam mengasuh anak didalam buku menjelaskan tentang deskripsi yang
bisa jadi mereka memang terlihat kuat di mata masyarakat umum namun sebenarnya
mereka memiliki emosi yang rapuh. Emosi yang rapuh ini menyebabkan mereka tetap
tergantung pada orangtua mereka hingga dewasa, karena seringkali rasa aman
dalam berelasi hanya didapat dari orang tua yang tidak pernah menila dan “meyalahkan”.
Didalam bab ini juga di jelaskan bahwa sejatinya sebagai orangtua ketika
melatih anak tidur sendiri sesungguhanya yang kita latih adalah diri sendiri. Sebab,
tidak jarang justru kitalah yang menghendaki anak untuk terus tidur bersama
kita sebagai orangtua. Sama halnya dengan anak, sebagai orangtua akan merasa
nyaman jika bersanding dengan anak. Itulah sebabnya, orangtua juga
perluberlatih untuk bisa tidur berpisah dengan mereka. Satu hal yang perlu kita
perhatikan, bahwa ketika kita melatih anak tidur sendiri, jangan ciptakan bahwa
hal itu kita lakukan karena kita tidak tergangggu oleh si anak, namun
sebaiknya, kita ciptakan kesan bahwa kita sedang menghargai privacy
anak. Kesan menyebabkan anak merasa “diabaikan”, dan ini akan semakin
menyulitkan proses pelatiahan.
Membantu anak mengatasi emosi negatif merupakan salah atu tugas
orangtua itupula yang memang benar adanya bahwa hidup menjadi berat untuk
seorang anak usia antara 6 sampai 12 tahun. Dimana seorang anak harus
menghadapi tekanan di rumah dan belajar untuk mengatasi dunia lebih luas yang
melibatkan sekolah dan teman-temannya. Masalahnya bukan hanya dalam hal
akademik. Terkadang anak-anak terlibat dalam banyak kegiatan yang bebeda atau
mempunyai banyak sekali tugas di rumah. Kalau memang seperti itu, akan sangat
baik jika kita bisa mengimbanginya dengan memberikan lebih banyak kasih sayang,
persetujuan dan peguatan yang positif pada mereka. Dan ada baiknya juga,kita
mendengarkan dan membantu mereka untuk mengatur stres dalam hidupnya. Mengontrol
emosi negatif sebagai orangtua yang baik dan penuh dukungan, terutama pada
saat-saat genting yang dialami anak, tentunya menjadi dambaan setiap orangtua. Untuk
mencapai tujuan itu, pastinya tidak mudah, perlu banyak waktu untuk melatihdiri
kita sebagai orangtua yang tidak akan mengecewakan anak dan memberikan sebuah
contoh yang baik dengan melakukan pengendalian diri dan kemampuan dalam
mengatasi masalah. Sebagai orangtua sebutan orang tua merupkan sebutan dimana
nanti hidup bersama anak-anak. Dan sebenarya hidup bersama anak kita justru
akan memperkenalkan diri kita yang sebenarnya, kita ini orangtua bagi anak-anak
kita atau disebut orangtua karena sudah punya anak atau usianya yang sudah tua.
Pada bab yang ketiga, buku ini lebih menjelaskan bagaimana cara
atau seni mendidik anak untuk menumbuhkan keyakinan, dengan tidak lepas kita
sebagai orangtua untuk menanamkan keyakinan kepada mereka bahwa “man jadda
wajada” siapa yang berusaha dengan keyakinan maka dialah yang berhak menuai
hasilnya. Seperti kutipan dari perkataan Umar bin Khaththab r.a pernah berkata:
“Janganlah mengecilkan semangatmu, sesungguhnya aku tak pernah diam dari
hal-halyang dibenci, yaitu dari orang yang kecil semangatnya,” (Umar bin
Khaththab r.a). Kebiasaan untuk membuat keputusan-keputusan sendiri dalam
lingkup kecil sejak dini akan memudahkan mereka nantinya untuk menentukan serta
memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupan mereka.
Terkadang alasan utama justru muncul, sebagai orangtua gagal
mencintai mereka adalah karena kita cukup mencintai diri kita sendiri dan “parahnya”
kita punya pandangan keliru bahwa anak-anak kita ada untuk memenuhi harapan
kita orangtuannya. Mengenai besarnya tanggung jawab dalam mendidik anak, di dalam
buku ini di jelaskan aeperti Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah telah menyatakan, “Barang
siapa yang melalaikan pendidikan anaknya, yakni dengan tidak mengajarkannya
hal-hal yang bermanfaat, membiarkan mereka terlantar, maka sungguh dia telah
berbuat buruk yang teramat sangat. Dapat kita saksikan, bahwa mayoritas anak
yang jatuh dalam ‘kerusakan’ tidak lain karena kesalahan orangtuanya dan tidak
adanya perhatian terhadap anak-anaknya. Juga tidak mengajarkan kepada mereka
kewajiban beragama dan sunnah-sunnah Rasul-Nya, mereka terlantakan anak-anaknya
masih kecil, sehingga mereka tak memberikan manfaat kepada diri sendiri dan
orangtuanya, manakala usia mereka telah beranjak tua.” Penjelasan tentang anak
dilahirkan fitrah, murni. Ia tidak lahir dengan berprasangka bawa pengasuh
maupun ibunya atau siapapun akan berkata bohong. Ia semula bahkan tidak
mengerti apa makna bohong. Pengasuh maupun pendidik lain misalnya ibu atau ayah
yang sudah diketahui oleh anak sering berbohong padanya tidak akan dipercaya lagi
oleh anak. Kerugiannya jelas, anak menjadi sulit dikendalikan oleh pendidiknya
yang suka berbohong ini.
Karena itu kita perlu bersikap konsisten. Tindakan dan ucapan kita
harus selaras. Selain itu kita sebagai pasangan juga harus kosisten dan sepakat
dengan berbagai aturan. Jangan sampai kita mengijinkan hal itu sering terjadi
maka si anak juga akan mencari sendiri kebenaran makna dari ucapan atau
tindakan itu. Semoga kita mengerti bahwa kita orangtua senantiasa mempengaruhi
alam bawah sadar anak-anak kita, pastikan kita mempengaruhi mereka dengan
hal-hal yang baik dan benar. Sebagai orangtua terkadang cara mendidik anak
justru malah menggunakan kekerasan yang didasari dengan berbagai alasan. Mungkinkah
mendidik tanpa kekerasan, didalam buku ini juga di jelaskan bahwa
sebaik-baiknya kita dalam mendidik anak gunakanlah kelembutan. Seseorang bisa
menjadi baik atau buruk pastinya karena suatu sebab. Perilaku, ucapan, sikap
dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan “akibat” dari suatu “sebab”
yang ditanamkan terlebih dahulu. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi
anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka
iginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan
dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi. Perlakukan anak seperti kita ingin
diperlakukan, jangan perlakukan anak-anak seperti yang dilakukan orangtua pada
kita.
Ledakan emosi biasanya kerap terjadi. Hal terpenting yang harus
diingat tatkala berhadapan dengan seorang anak yang sedang marah, tidak peduli
apa sebabnya, adalah tetap bersikap tenang. Jangan memperparah keadaan dengan
frustasi kita.dan tentunya tetap menghadirkan bahasa cinta seperti; kata-kata
penuh kasih sayang, kata-kata pujian, kata-kata yang membersihkan hati, dan
kita harus bisa memberikan bimbingan kepada anak dengan menjelaskan tentang
nilai-nilai moral, etika, dan nilai-nilai kebenaran dalam hidup. Dan para
pendidik haruslah meningkatkan kesadaran dirinya dan lebih sehat secar
emosional sehingga mampu berespon lebih terkontrol, jika diperlukan lebih
bijaksana kalau para pendidik mengikuti pelatihan atau seminar parenting guna
meningkan mutu pendidikan yang membangkitkan jiwa. Orang tua harus selalu
membimbing anak dan menggandengnya mengejar mimpi karena anak kita yang
sekarang bukan anak kita yang akan datang tetapi anak kita yang akan datang
ditentukan oleh sikap kita yang sekarang.
Janganlah lupa kepada keluarga dan bangunlah cinta dalam keluarga,
karena dengan membangun cinta kita dapat mengerti dan memahami apa yang
sebenarnya ada di dalam keluarga, arti keluarga, dan manfaat keluarga. Satu hal
yang perlu disadari tentang kedekatan kita sebagai orangtua dengan anak. Banyak
mengartikan kedekatan orangtua dengan anak hanyalah kedekatan secara fisik. Ada
lima bahasa cinta yang bisa kita berikan pada anak tergantung mana yang dominan.
Kelimanya adalah layanan, kata-kata pendukung, hadiah, sentuhan fisik, dan
waktu berkalitas. Jika semua emosional seorang anak penuh maka ia mudah diajak
kerjasama dan mudah menurut serta memiliki motivasi tinggi. Didalam keluarga
juga ada tugas buat orangtua untuk menjelaskan waktu demi waktu tentang
keluarga yang tidak selalu bersama, inilah yang akan membuatnya berani untuk
menentukan jati dirinya kelak ketika ia remaja. Ia akan berani menentukan
identitas karena secara emosional ia mendapatkan apa yang dibutuhkan. Mengawali
pendidikan anak kita dengan permohonan kepada Allah agar Dia memberikan
pendidikan-Nya langsung kepada anak-anak kita melalui sekolah kehidupan adalah
sebuah langkah yang menurut kita baik dimana kita balajar dari kehidupan.
3. Kelebihan dan Kelemahan Buku
a. Kelebihan
Buku
1)
Buku
ini merupakan buku yang menarik untuk dibaca bagi pendidik, orangtua maupun
guru.
2)
Buku
ini bisa digunakan sebagai salah satu cara untuk mengetahui bagaimana cara mendidik
anak dengan baik dan benar.
3)
Memberikan
pandangan secara berurutan dan terklasifikasi secara baik.
4)
Penejelasan
isi buku yang bagus karena dengan menambahkan berbagai surat didalam Alquran
dan menambahkan Hadis sebagai penguatan penulis dalam menjelaskan isi buku.
b.
Kelemahan
Buku
Menurut
saya didalam buku ini hanya sedikit kelemahannya yaitu; didalam penulisan
kata-kata pada isi buku masih banyak yang salah, begitupula pada penulisan tanda baca yang ditemukan kesalahan dalam penulisnnya dan masih
sedikit nggantung pada setiap bab yang selesai dijelaskan di dalam buku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar